Rain falls down and gazelle wrapping me all the times
Silent and warm, like a breath of air.
Oh Rain Man...Come and joined me in the deepest sea.
To see the greatest scenery and silky wind.
I wanna play sand with you in a cloudy day...
Looked up remedy of happiness...
Watching children play hide and seek....
As usually we catch them with our arms along.
Rain man and Lady Rain
Together as one and never part away.
Jumat, 30 Juli 2010
Untaian Peta Biru
Aku telah yakin padanya Tuhan....
Sejak pertama kali aku melihatnya...Aku yakin padanya....
Dia membentuk garis peta yang teratur dan baik adanya.
Mendekatiku dengan penuh sahaja...seakan tak pernah lekang oleh panjang jarak yang terbentang.
Aku telah berbuat seyakin yang aku bisa.....
Ingin merangkai mimpi dengan dia di kaki bukit berwarna biru.
Berikanlah kami kekuatan yang dapat membuat kami lebih bersyukur padamu Tuhan.
Berikanlah kami ruang titik untuk bertemu.
Menembus batas dan waktu.
Jakarta. 30.07.10
Sejak pertama kali aku melihatnya...Aku yakin padanya....
Dia membentuk garis peta yang teratur dan baik adanya.
Mendekatiku dengan penuh sahaja...seakan tak pernah lekang oleh panjang jarak yang terbentang.
Aku telah berbuat seyakin yang aku bisa.....
Ingin merangkai mimpi dengan dia di kaki bukit berwarna biru.
Berikanlah kami kekuatan yang dapat membuat kami lebih bersyukur padamu Tuhan.
Berikanlah kami ruang titik untuk bertemu.
Menembus batas dan waktu.
Jakarta. 30.07.10
Kamis, 13 Mei 2010
Foto Sebagai Media Dokumentasi dalam Kehidupan Manusia
Apa yang menjadi referensi visual kita sehari-hari adalah bahasa gambar. Dan bagaimana perspektif kita melihat dunia, kini terbentuk oleh gambar-gambar yang terlihat dalam perkembangan budaya visual sekarang ini. Fotografi adalah salah satu medium yang memegang peranan penting dalam perkembangan kultur visual.
Ketika image ( photograph ) mampu mewakili kebenaran dan realitas dibandingkan dengan kata-kata ( text ), maka 'keseharian' yang direkam oleh kamera dan kemudian image yang dihasilkannya sejalan dengan perkembangan teknologinya dalam menampilkan citraan-citraan telah menjadikannya representasi dari realitas untuk masyarakat. Tapi sejauh mana fotografi dapat merepresentasikan realitas, dan juga realitas yang seperti apa, menjadi hal yang layak dilihat kembali dan dipertanyakan kembali.
Fotografi memiliki sebuah fungsi; pertama sebagai medium untuk merekam kenyataan (ketidaknyataan) dan kedua sebagai medium ekspresi artistik. Secara kodratnya sebagai alat perekam, fotografi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keseharian dan perkembangan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat.
Fotografi memperlihatkan kepada kita kehidupan urban, kehidupan secara alami, modernitas, wajah orang-orang, landscape, culture, fashion, kegembiraan, kesedihan, perang dan perubahan dalam masyarakat.
Sebagai media perekam, fotografi menjadi representasi dari memori. Melalui perekaman memori-memori, fotografi menjadikan apa yang telah lalu bercampur dengan waktu yang sekarang, menyatu dengan kekinian. Di setiap kehidupan manusia, fotografi merupakan media yang penting untuk mengungkapkan tentang " ada ". Yang dimaksud dengan "ada" adalah di saat kita berada di dalam selembar foto pada suatu kejadian dan orang lain dapat melihat diri kita pernah berada di dalam kejadian atau kenangan tersebut.
Menurut buku yang saya baca, yang ditulis oleh Karren Strassler, mengatakan bahwa fotografi dibedakan menjadi dua bagian yaitu fotografi dokumentasi sebagai rekaman (record) dan fotografi dokumentasi sebagai arsip.
Yang dimaksud dengan fotografi dokumentasi sebagai rekaman (record) adalah tentang sejarah awal masuknya fotografi pada zaman masuknya pasphoto yang dilakukan oleh orang China-Indonesia di Jawa, zaman hindia belanda di Indonesia, lalu tentang pasphoto (foto identitas diri) yang digunakan sebagai dokumen resmi, fungsional membuat ijazah.
Sedangkan yang dimaksud dengan fotografi dokumentasi sebagai arsip adalah pengumpulan foto-foto yang berada di dalam dompet ataupun foto-foto yang dipajang di ruang keluarga sebagai arsip umum dan arsip pribadi.
Yuwono seorang foto jurnalis China-Indonesia, menjelaskan:
" ketika seseorang meninggal dunia dan mereka menggunakan foto, ketika orang meninggal dunia lalu dibakar menjadi abu, mereka membawa fotonya. Memajang foto tersebut sebagai pengingat, maksudnya adalah memberika penghormatan kepada yang telah mati".
Untuk mencapai pengertian tentang sebuah foto bukanlah suatu hal yang mudah. Sejauh ini usaha yang paling baik adalah apa yang dikatakan oleh Wilson Chicks.
Esensi dari sebuah foto adalah: " I was there, I saw it happen, it was like this".
Rabu, 12 Mei 2010
LELAH
Hampir setengah terpejam, dengan tubuh penuh jeruji.
Mengapa tak ada kata penyemangat yang selama ini selalu terdengar....
Tubuhku semakin lama semakin menipis lapisannya, karena kau tak mengerti betapa lelahnya diri ini.
Biar kusembunyikan semuanya.... Hanya sendiri.
Tak ada penghargaan dalam "sebuah nama panggilan", yang ada cuma "reflek"?
Anggaplah aku sebagai teman biasa saja....daripada kau melemahkan jiwaku yang hampir mati ini!
sedih rasanya....rasanya sedih sekali....
Jakarta,17.10.50
12 Mei 2010.
Mengapa tak ada kata penyemangat yang selama ini selalu terdengar....
Tubuhku semakin lama semakin menipis lapisannya, karena kau tak mengerti betapa lelahnya diri ini.
Biar kusembunyikan semuanya.... Hanya sendiri.
Tak ada penghargaan dalam "sebuah nama panggilan", yang ada cuma "reflek"?
Anggaplah aku sebagai teman biasa saja....daripada kau melemahkan jiwaku yang hampir mati ini!
sedih rasanya....rasanya sedih sekali....
Jakarta,17.10.50
12 Mei 2010.
Sabtu, 08 Mei 2010
Atap Langit bernama Hujan.
Tadi sore, aku mencium aroma tanah basah yang tersiram hujan. Ah harum sekali aromanya. Seperti wanginya rotinya yang terpanggang. Ingin sekali aku bermain hujan ditemani bayangan berwarna-warni. Aku melihat hujan turun ke bumi lama sekali, sambil kusesaki aromanya menyentuh bulu-bulu hidungku yang sensitif. Menakjubkan.
Selepas hujan berhenti, aku terdiam dan berbicara sendiri dalam hati. "Kenapa kamu berhenti hujan?". Aku masih ingin melihatmu menemani soreku yang dingin ini. Teringatku pada suatu ketika, saat ku masih muda dulu.
Aku suka bermandikan hujan di bawah atap langit. Dan dengan riang gembira aku tertawa sambil membuka mulutku selebar-lebarnya, agar aku dapat merasakan air hujan yang turun dari langit. Hmmm...rasanya hambar.
Tapi tak mengapa, rasa penasaranku akan rasa air hujan sudah kudapatkan. Tak perlu mencari lagi, setidaknya aku pernah mencobanya.
Lalu aku mendengar suara Ayah memanggilku, agar segera masuk ke dalam rumah. Ah, aku sedih, Biarkan aku tetap bermandi hujan dengan tanganku yang masih menggenggam bunga sepatu berwarna merah, Aku ingin menari sambil berputar dan berputar, hingga aku terjatuh dengan bahagia bersama hujan.
Ayolah ayah, biarkan aku sebentar saja bermandikan cahaya hujan......
Selepas hujan berhenti, aku terdiam dan berbicara sendiri dalam hati. "Kenapa kamu berhenti hujan?". Aku masih ingin melihatmu menemani soreku yang dingin ini. Teringatku pada suatu ketika, saat ku masih muda dulu.
Aku suka bermandikan hujan di bawah atap langit. Dan dengan riang gembira aku tertawa sambil membuka mulutku selebar-lebarnya, agar aku dapat merasakan air hujan yang turun dari langit. Hmmm...rasanya hambar.
Tapi tak mengapa, rasa penasaranku akan rasa air hujan sudah kudapatkan. Tak perlu mencari lagi, setidaknya aku pernah mencobanya.
Lalu aku mendengar suara Ayah memanggilku, agar segera masuk ke dalam rumah. Ah, aku sedih, Biarkan aku tetap bermandi hujan dengan tanganku yang masih menggenggam bunga sepatu berwarna merah, Aku ingin menari sambil berputar dan berputar, hingga aku terjatuh dengan bahagia bersama hujan.
Ayolah ayah, biarkan aku sebentar saja bermandikan cahaya hujan......
Jumat, 07 Mei 2010
MIGRAIN MERACAU
Diri ini begitu lelah mengamati banyaknya jejeran kata-kata yang memusingkan. Resah sekali. Kapan ini akan segera dimulai? Aku ingin segera melakukan perjalanan Jiwa! Haus akan rasa ceria dan tawa bahagia.
Lepaskan semuanya idea!!!
Biarkan pikiran terburukmu yang lepas dan menjauh dari dirimu. Jangan biarkan kamu tertatih rapuh dan akhirnya menjadi untaian air mata.
Lepaskan semuanya idea!!!
Biarkan pikiran terburukmu yang lepas dan menjauh dari dirimu. Jangan biarkan kamu tertatih rapuh dan akhirnya menjadi untaian air mata.
Trilogi Tiga Kota
Jakarta...
Solo....
Semarang...
bersama sang surya, rembulan dan lukisan langit yang membentang luas di angkasa biru...
indah sekali...
sepeti sebuah cerita yang tak pernah dibayangkan sebelumnya...
berjalan dengan penuh keriangan dan sebuah pengharapan...
warung kopi bersama dengan sepeda onthel tua, bersama menyusuri jalan temaram di kota pecinan yang berisi semua romansa...
Trilogi tiga kota yang tak pernah bisa dilupakan.
Solo....
Semarang...
bersama sang surya, rembulan dan lukisan langit yang membentang luas di angkasa biru...
indah sekali...
sepeti sebuah cerita yang tak pernah dibayangkan sebelumnya...
berjalan dengan penuh keriangan dan sebuah pengharapan...
warung kopi bersama dengan sepeda onthel tua, bersama menyusuri jalan temaram di kota pecinan yang berisi semua romansa...
Trilogi tiga kota yang tak pernah bisa dilupakan.
Langganan:
Postingan (Atom)


