hatiku dipenuhi warna hijau yang bergelombang....
kau tahu mengapa?.....
Karena aku dipenuhi rasa yang tak kumengerti apa itu artinya.....
sekedar bertanya.....
Mengapa begitu?
Hijau.....mengapa kau memenuhi pikiranku?
dengan semua biasmu yang anggun....
Lepaskan dan tancapkanlah pori-pori warnamu di bibir merahku....
Biarkan sejenak aku menikmati mati suri sendiri.....
Hijau.....kecuplah aku sekali lagi......
Minggu, 22 Mei 2011
berbeda.
Kau adalah angka satu...
Aku adalah angka tiga....
Kau ibarat pohon yang tegak berdiri dan kuat akarnya....
Aku adalah lautan luas yang dipenuhi gelombang tak berbatas....
Kau adalah kotak....
Aku adalah segitiga.....
Kau mengisiku dengan angin yang kuat serasa makna
Dan aku memberimu deburan ombak yang silih berganti naik dan turun.....
Berbeda....dan akan selalu berbeda.....
Meski terkadang sama dalam pandangan jiwa....
Tapi tetap berbeda......
Aku adalah angka tiga....
Kau ibarat pohon yang tegak berdiri dan kuat akarnya....
Aku adalah lautan luas yang dipenuhi gelombang tak berbatas....
Kau adalah kotak....
Aku adalah segitiga.....
Kau mengisiku dengan angin yang kuat serasa makna
Dan aku memberimu deburan ombak yang silih berganti naik dan turun.....
Berbeda....dan akan selalu berbeda.....
Meski terkadang sama dalam pandangan jiwa....
Tapi tetap berbeda......
titik.
Menoleh pada kata yang tertoreh di bukit mimpi.....
Saya sekarang tak sendiri....tapi berdua....
Saya ingin melanjutkan langkah-langkah nyata yang dulu pernah saya inginkan.....
Kembali pada sebuah titik....
Tak berbentuk kotak ataupun oval....hanya sebuah titik yang tak berpipih...
Tanpa menarik garis kuasa batas....
Roda tak bisa kau putar kembali ke belakang....
Jalani langkahmu dan berjuanglah...
Larilah secepat yang kau bisa....
Rianglah hatimu dan akan kau temukan kembali jati dirimu
Saya sekarang tak sendiri....tapi berdua....
Saya ingin melanjutkan langkah-langkah nyata yang dulu pernah saya inginkan.....
Kembali pada sebuah titik....
Tak berbentuk kotak ataupun oval....hanya sebuah titik yang tak berpipih...
Tanpa menarik garis kuasa batas....
Roda tak bisa kau putar kembali ke belakang....
Jalani langkahmu dan berjuanglah...
Larilah secepat yang kau bisa....
Rianglah hatimu dan akan kau temukan kembali jati dirimu
Jumat, 14 Januari 2011
Perjalanan Jiwaku.
Apa kabar Jakarta, Jogja, Solo, Semarang dan Bandung....
Apa kabarmu wahai kota-kotaku tercinta....sudah berapa lama aku tidak menjelajahi peta-petamu yang berliku dan indah itu? Terakhir kali aku menyambangi Bandung untuk menemani pasangan jiwaku.
Bagaimana jika aku memulai kisahku dengan kota Jakarta...di kota ini aku mulai melihat segala rupa kehidupan, kehidupan tegas dan keras. Hidup untuk berjuang dan bertahan dari segala keterasingan yang ada. Menabur mimpi-mimpi kelabu yang akhirnya menghenyakanku untuk terus berjalan walau pernah tertatih. Belajar menerima tentang perpisahan yang menyakitkan dan belajar untuk memahami semuanya. Hidup tak ada yang sempurna nona, belajar dari masa lalu sebagai guru dan pengalaman yang baik, berpacu dengan masa sekarang demi mendapatkan masa depan yang lebih baik tentunya.....Di kota Jakarta itu pun, aku bertemu dia.....kami bertemu di pameran imaji....berkenalan dan bertukar nomer telepon. dan bersenda gurau bersama. Ya, dia teman yang baik dan senang sekali berinteraksi.
Dan jikalau aku ingin memulai kisahku di kota Jogjakarta....aku memulainya dengan penuh perjuangan...dengan belajar dari kamera pinjaman teman ibuku...aku mulai belajar untuk mencipta imaji dengan penuh hasrat yang tinggi. Kamera yang kupunyai waktu itu adalah kamera nikon FM 1O. Ya kamera sederhana, tetapi sangat membantu dalam bidang yang aku geluti. Bertemu dengan sahabat baik yang senang berbagi segala hal tentang eratnya persaudaraan. Dengan mereka aku mencuci imaji, menyinarinya lalu mencetaknya di sebuah kamar gelap. Ah betapa sangat kurindukan sekali saat-saat itu. Bertemu dengan guru yang baik sekali mengajarkan tentang ilmu-ilmu semiotika, bertemu dengan anak-anak yang menjadi korban gempa, dan bertemu dia kembali....Dia....sahabatku tercinta...yang ternyata akan segera menemaniku hingga akhir usiaku kelak nanti. Dia menemuiku dari berbagai arah dan terkadang dengan waktu yang kadang tidak bisa diprediksikan. Ya, dia membuaku berpikir, apakah ia adalah tanda-tanda yang sudah diberikan ole Tuhan? Tetapi aku tidak mengetahuinya. Aku berbagi beberapa hal tentang kehidupan dengannya saat aku masih menjadi teman baiknya.
Dan kota Solo pun menjadi penyambung kisah kami....selama aku tinggal di jogja....pernah suatu hari aku menyambanginya dengan penuh tanda tanya. Aku perlu berbicara. aku perlu tahu arah. Arah yang baik untukku dan untuk kehidupanku. Bersama dia, kami habiskan malam-malam kami di tempat yang bisa membuat kami nyaman untuk berbicara dari hati ke hati. Di malam itu, kami tidak tertidur semalaman. Kami hanya berbicara dan berbicara untuk mengungkapkan rasa yang ada. Rasa berbagi dan tertawa. Kami suka itu. Kami suka melihat kunang-kunang berterbangan di tengah sawah sambil ditemani secangkir gelas besar berisi teh hangat dan mungkin...di temani oleh cinta.....
Bagaimana dengan Semarang? setelah arah yang sudah kudapatkan terlihat. Aku mulai melihat cahaya yang terang dan nyata. Tentang sebuah ketulusan dan pengharapan yang sama. Pengharapan untuk menjadi kita dan pengharapan untuk saling memahami serta mengasihi satu sama lain. Saat senyummu dan rambut keritingmu sudah mulai berbicara, aku bisa menikmatinya...menikmati semua tentangmu... Ya kamu...apa adanya...tanpa embel-embel apapun. Hanya suara yang berat, canda tawa yang menghibur, obrolan tentang hidup dan masa depan serta cinta kasih yang tulus. Aku menemaninya sepanjang perjalanan ini...dan ia menemaniku dengan riang gembira.
Dan Bandung sebagai penutup kota. Kota yang pernah aku datangi...untuk menemaninya mencari imaji...meski situasi jalannya sangat membingungkan...tapi kami tetap bisa menikmatinya...terlebih lagi kami bisa merasakan kebahagiaan dengan ayah dan ibu. Semua hal di Bandung sungguh luar biasa. Bertemu dengan sahabat lainnya. Merasakan kebersamaan dan kehangatan sebuah keluarga. Biarkan kami melihat cinta kami lewat keluarga yang kami punya.
Karena biarpun sejauh apapun kamu melangkah....keluarga akan tetap ada untukmu....menemanimu...menghangatkanmu...memberimu cinta.....
Dan sepertinya....kota Surabaya akan menjadi tempat perhelatanku selanjutnya....saya datang soerabaja.
kunang-kunang sore
14 januari 2011.
Apa kabarmu wahai kota-kotaku tercinta....sudah berapa lama aku tidak menjelajahi peta-petamu yang berliku dan indah itu? Terakhir kali aku menyambangi Bandung untuk menemani pasangan jiwaku.
Bagaimana jika aku memulai kisahku dengan kota Jakarta...di kota ini aku mulai melihat segala rupa kehidupan, kehidupan tegas dan keras. Hidup untuk berjuang dan bertahan dari segala keterasingan yang ada. Menabur mimpi-mimpi kelabu yang akhirnya menghenyakanku untuk terus berjalan walau pernah tertatih. Belajar menerima tentang perpisahan yang menyakitkan dan belajar untuk memahami semuanya. Hidup tak ada yang sempurna nona, belajar dari masa lalu sebagai guru dan pengalaman yang baik, berpacu dengan masa sekarang demi mendapatkan masa depan yang lebih baik tentunya.....Di kota Jakarta itu pun, aku bertemu dia.....kami bertemu di pameran imaji....berkenalan dan bertukar nomer telepon. dan bersenda gurau bersama. Ya, dia teman yang baik dan senang sekali berinteraksi.
Dan jikalau aku ingin memulai kisahku di kota Jogjakarta....aku memulainya dengan penuh perjuangan...dengan belajar dari kamera pinjaman teman ibuku...aku mulai belajar untuk mencipta imaji dengan penuh hasrat yang tinggi. Kamera yang kupunyai waktu itu adalah kamera nikon FM 1O. Ya kamera sederhana, tetapi sangat membantu dalam bidang yang aku geluti. Bertemu dengan sahabat baik yang senang berbagi segala hal tentang eratnya persaudaraan. Dengan mereka aku mencuci imaji, menyinarinya lalu mencetaknya di sebuah kamar gelap. Ah betapa sangat kurindukan sekali saat-saat itu. Bertemu dengan guru yang baik sekali mengajarkan tentang ilmu-ilmu semiotika, bertemu dengan anak-anak yang menjadi korban gempa, dan bertemu dia kembali....Dia....sahabatku tercinta...yang ternyata akan segera menemaniku hingga akhir usiaku kelak nanti. Dia menemuiku dari berbagai arah dan terkadang dengan waktu yang kadang tidak bisa diprediksikan. Ya, dia membuaku berpikir, apakah ia adalah tanda-tanda yang sudah diberikan ole Tuhan? Tetapi aku tidak mengetahuinya. Aku berbagi beberapa hal tentang kehidupan dengannya saat aku masih menjadi teman baiknya.
Dan kota Solo pun menjadi penyambung kisah kami....selama aku tinggal di jogja....pernah suatu hari aku menyambanginya dengan penuh tanda tanya. Aku perlu berbicara. aku perlu tahu arah. Arah yang baik untukku dan untuk kehidupanku. Bersama dia, kami habiskan malam-malam kami di tempat yang bisa membuat kami nyaman untuk berbicara dari hati ke hati. Di malam itu, kami tidak tertidur semalaman. Kami hanya berbicara dan berbicara untuk mengungkapkan rasa yang ada. Rasa berbagi dan tertawa. Kami suka itu. Kami suka melihat kunang-kunang berterbangan di tengah sawah sambil ditemani secangkir gelas besar berisi teh hangat dan mungkin...di temani oleh cinta.....
Bagaimana dengan Semarang? setelah arah yang sudah kudapatkan terlihat. Aku mulai melihat cahaya yang terang dan nyata. Tentang sebuah ketulusan dan pengharapan yang sama. Pengharapan untuk menjadi kita dan pengharapan untuk saling memahami serta mengasihi satu sama lain. Saat senyummu dan rambut keritingmu sudah mulai berbicara, aku bisa menikmatinya...menikmati semua tentangmu... Ya kamu...apa adanya...tanpa embel-embel apapun. Hanya suara yang berat, canda tawa yang menghibur, obrolan tentang hidup dan masa depan serta cinta kasih yang tulus. Aku menemaninya sepanjang perjalanan ini...dan ia menemaniku dengan riang gembira.
Dan Bandung sebagai penutup kota. Kota yang pernah aku datangi...untuk menemaninya mencari imaji...meski situasi jalannya sangat membingungkan...tapi kami tetap bisa menikmatinya...terlebih lagi kami bisa merasakan kebahagiaan dengan ayah dan ibu. Semua hal di Bandung sungguh luar biasa. Bertemu dengan sahabat lainnya. Merasakan kebersamaan dan kehangatan sebuah keluarga. Biarkan kami melihat cinta kami lewat keluarga yang kami punya.
Karena biarpun sejauh apapun kamu melangkah....keluarga akan tetap ada untukmu....menemanimu...menghangatkanmu...memberimu cinta.....
Dan sepertinya....kota Surabaya akan menjadi tempat perhelatanku selanjutnya....saya datang soerabaja.
kunang-kunang sore
14 januari 2011.
Rabu, 15 Desember 2010
Perjalanan jiwa.
Sewaktu saya terbangun dari semuanya yang ada di hadapan saya…saya hanya ingin membuat semua orang di sekitarku bahagia, saya tak ingin sendirian. Saya ingin menjalani hari-hari dengan penuh semangat dan percaya diri. Menjalin tali temali yang panjangnya ratusan ribu meter untuk membuat sebuah perjalanan jiwa yang penuh tantangan dan ekspektasi yang tak pernah saya duga sebelumnya. Ketika semua pertanyaan di dalam hidup terus berputar. Apa yang ingin kau lakukan untuk hidupmu?
Menyiasati semuanya dengan waktu yang ada.
Ada yang hanya ingin santai-santai saja menghadapi hidup. Seakan tak ada target yang harus dicapai. Ya hanya menunggu takdir yang ada. Tak ingin mencari dan hanya terduduk diam membatu di atas anyaman kursi bambu yang nyaman.
Ada pula yang mulai mencari-cari dengan sederhana dan dengan perlahan-lahan. Mencari satu persatu pecahan dirinya yang tercerai berai. Entah mungkin ada di bagian belahan dunia yang mana, hanya sanggup mencarinya satu persatu tetapi pasti…Dia menemukan bagian dirinya secara perlahan tapi pasti. Tak bisa dibayangkan sebelumnya. Menyenangkan. Penuh sensasi dalam pencariannya. Luar biasa tak terhingga rasanya.
Sementara yang lainnya hanya perlahan mencarinya, ada seseorang yang dengan focus melesatkan anak panahnya untuk memberikan makna bagi dirinya dan anak-anak panahnya yang ia lesatkan dengan cepat. Dengan usaha yang tak pernah sia-sia, meski kadang saat melepaskan anak panahnya, ia bukanlah busur yang sempurna. Tapi dengan sekuat raga dan jiwa, ia memberikan segalanya. Agar menjadi sebuah titian tempat mendarat yang setidaknya mengenai inti dalam sasaran.
Ketika sebuah perjalanan seorang manusia yang tak keseluruhan dapat diterka, Kita hanya manusia biasa yang dilahirkan ke dunia untuk mengemban misi rahasia. Rahasia alam yang membuat semuanya seakan terpikat, kadang hanya mementingkan duniawi semata tanpa pencarian bathiniah. Semua unsur kadang ada di dalamnya. Tak semuanya yang kukatakan itu benar adanya. Mungkin hanya sepenggal kata-kata bias yang menemani di kala sore menjelang. Jangan dimasukkan ke dalam hati, tapi cobalah kita merefleksikan semua yang sudah pernah kita lakukan. Baik di masa lalu, masa sekarang dan di saat masa depan menjelang. Semua pasti sudah digariskan, dan sebisanya kita berusaha dengan sekuat tenaga. Terus berjuang dan pantang menyerah.
Seperti yang telah dikatakan nenekku ketika Ibuku masih muda dulu: “ Capailah mimpi sekuat tenaga, niscaya kamu akan mendapatkan impian itu”.
Renungan bias di kala sore menjelang.
16 agustus 2010.
Rabu, 08 Desember 2010
sore yang kelabu.
Di sore ini,saya bersedih Tuhan. Karena saya telah melakukan suatu kesalahan. Kata-kata yang terkadang apabila tidak bisa dikendalikan,akan berakibat sangat fatal bagi manusia yang ingin mengatakan sesuatu hal dengan emosi dan amarah dengan manusia lain untuk mengkomunikasikan sesuatu. Saya bukanlah malaikat yang berwujud keindahan. Saya hanyalah seorang idealita. Idealita yang selalu berpikir positif. Idealita yang pantang menyerah. Idealita yang menghargai kehidupan dan segala macam bagian yang menjadi bagian bumi. Idealita yang terkadang masih belum mampu mengendalikan emosi dengan kata-katanya. Dan Idealita yang penyayang serta penyabar.
Satu definisi yang akan saya tuangkan ke dalam tulisan baru saya adalah.....tentang Idealita yang terkadang masih belum mampu untuk mengendalikan emosi dan kata-katanya. Idealita yang saya kenal sekarang itu, adalah manusia yang tak sempurna. Ia memiliki kesalahan yang terkadang harus dia pikirkan segala macam reaksi aktif yang akan ia dapatkan karena sikap tersebut. Dan ia, terbalut dengan emosi yang merana, ingin berteriak ataupun ingin menenggelamkan diri di aair yang penuh dengan lumpur. Saya hanyalah manusia biasa, yang kadang tak luput dari semua dosa. Saya terkadang juga dapat melukai manusia lain dengan perbuatan saya. Saya mengakui bahwa saya salah di sore kelabu ini. Saya memang bersalah. Dengan segenap hati yang terdalam, ingin kutiupkan permohonan maaf padamu wahai sahabat jiwa. Maafkanlah saya, Tuhan. Berikanlah saya waktu untuk terus belajar agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi. Di sore kelabu ini, dengan hujan dan dingin yang menjadi saksi. Saya akan berubah. Saya akan memperbaiki kesalahan saya.
Rindukelabu#1#
Satu definisi yang akan saya tuangkan ke dalam tulisan baru saya adalah.....tentang Idealita yang terkadang masih belum mampu untuk mengendalikan emosi dan kata-katanya. Idealita yang saya kenal sekarang itu, adalah manusia yang tak sempurna. Ia memiliki kesalahan yang terkadang harus dia pikirkan segala macam reaksi aktif yang akan ia dapatkan karena sikap tersebut. Dan ia, terbalut dengan emosi yang merana, ingin berteriak ataupun ingin menenggelamkan diri di aair yang penuh dengan lumpur. Saya hanyalah manusia biasa, yang kadang tak luput dari semua dosa. Saya terkadang juga dapat melukai manusia lain dengan perbuatan saya. Saya mengakui bahwa saya salah di sore kelabu ini. Saya memang bersalah. Dengan segenap hati yang terdalam, ingin kutiupkan permohonan maaf padamu wahai sahabat jiwa. Maafkanlah saya, Tuhan. Berikanlah saya waktu untuk terus belajar agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi. Di sore kelabu ini, dengan hujan dan dingin yang menjadi saksi. Saya akan berubah. Saya akan memperbaiki kesalahan saya.
Rindukelabu#1#
Selasa, 30 November 2010
Senang berjumpa denganmu, Desember!
Selamat berjumpa denganmu wahai bulan desember yang cantik.
Bunga-bunga krisan telah menanti sepanjang perjalanan.
Dan bagi saya bulan desember adalah bulan yang menyenangkan.
Karena semua akan menuju tahun baru,
Dan pengharapan baru tentunya.
Dan kamu tentunya tahu apa yang akan terjadi nantinya?
Hujan....hujan di bulan desember yang akan segera kunanti.
Bersama dengan kekasih hati....
1 desember 2010.
coklat panas.
apa yang bisa saya katakan tentang cokelat. saya pecinta cokelat. Baik dalam bentuk coklat batang atau pun coklat panas dan segala hal tentang cokelat. Apa yang bisa saya rasakan tentang coklat panas? Saat saya mengambil sebuah gelas berwarna cokelat yang bertuliskan " Sex, no substitute for chocolate", langsung saya berpikir. Mungkin inilah korelasi antara coklat dan sex. Ah, tapi saya tidak terlalu perduli dengan tulisan itu. Karena malam ini saya mulai berimajinasi dengan semua petualangan yang telah saya lakukan bersama para penulis yang hebat. Daerah eksotis yang saya temui menggambarkan keanekaragaman hayati, manusia, warna dan budaya. Sungguh indah. Dan dengan minuman coklat panas yang telah tercium aromanya tersebut, membuat saya kembali mengenang perjalanan luar biasa.
Aceh, samosir,nias, padang,sumba tengah,sumba barat, sumba timur, jawa timur, jawa tengah, kulon progo,lombok dan sumbawa. Daerah yang sungguh eksotis. saya sangat terpukau dengan kekuatan manusia yang berada di dalamnya. Penuh gairah untuk menjalani hidup, meskipun hidupnya pas-pas an. Semangat perjuangan seorang manusia, meskipun kehidupan tidak memadai.
Dan apa yang bisa diharapkan dari segelas coklat panas di waktu dini hari ini?
semoga saja, saya bisa segera tidur dan melepaskan rasa sakit akibat vertigo yang merajalela.
sudutbiru. 1 Desember 2010.00.00
Aceh, samosir,nias, padang,sumba tengah,sumba barat, sumba timur, jawa timur, jawa tengah, kulon progo,lombok dan sumbawa. Daerah yang sungguh eksotis. saya sangat terpukau dengan kekuatan manusia yang berada di dalamnya. Penuh gairah untuk menjalani hidup, meskipun hidupnya pas-pas an. Semangat perjuangan seorang manusia, meskipun kehidupan tidak memadai.
Dan apa yang bisa diharapkan dari segelas coklat panas di waktu dini hari ini?
semoga saja, saya bisa segera tidur dan melepaskan rasa sakit akibat vertigo yang merajalela.
sudutbiru. 1 Desember 2010.00.00
Kura-Kura Kikuk
Adalah seorang sahabat yang baik hati.
Mendamaikan jiwa dengan senyum yang ramah dan hati yang tulus.
Memberikan pelukan ketika saya benar-benar sedang membutuhkan.
Mengisi kekosongan yang terkadang menerjang.
Dia sahabat yang menyenangkan.
Menulis adalah salah satu hobbynya. Dan kesukaan kami berdua adalah berjalan-jalan. Melihat segala yang tertutup rapat.
menangkap imaji yang berserakan di pinggir jalan.
Menyenangi segala bentuk tentang pribadi diri sendiri yang tak'kan mampu orang lain mengetahuinya.
Menjalin persahabatan dengan orang lain.
Karena kami suka kehidupan.
Karena kami suka matahari dan juga hujan.
Karena kami dipisahkan oleh jarak .
Maka saya sampaikan doa dan harapan yang dapat menyemangati hidupnya.
kura-kura kikuk. Meski kita terpisah jauh. Tapi ingatlah tentang segala kekuatan yang telah kamu bangun untuk dirimu dan manusia di sekelilingmu. Pandanglah ke depan dan jangan menoleh lagi ke belakang. Karena hidup terus berjalan dan mimpi-mimpi terus terurai. Salam sejahtera untukmu, wahai Kura-kura kikuk yang lucu.
sudutbiru.30 november 2010.
Mendamaikan jiwa dengan senyum yang ramah dan hati yang tulus.
Memberikan pelukan ketika saya benar-benar sedang membutuhkan.
Mengisi kekosongan yang terkadang menerjang.
Dia sahabat yang menyenangkan.
Menulis adalah salah satu hobbynya. Dan kesukaan kami berdua adalah berjalan-jalan. Melihat segala yang tertutup rapat.
menangkap imaji yang berserakan di pinggir jalan.
Menyenangi segala bentuk tentang pribadi diri sendiri yang tak'kan mampu orang lain mengetahuinya.
Menjalin persahabatan dengan orang lain.
Karena kami suka kehidupan.
Karena kami suka matahari dan juga hujan.
Karena kami dipisahkan oleh jarak .
Maka saya sampaikan doa dan harapan yang dapat menyemangati hidupnya.
kura-kura kikuk. Meski kita terpisah jauh. Tapi ingatlah tentang segala kekuatan yang telah kamu bangun untuk dirimu dan manusia di sekelilingmu. Pandanglah ke depan dan jangan menoleh lagi ke belakang. Karena hidup terus berjalan dan mimpi-mimpi terus terurai. Salam sejahtera untukmu, wahai Kura-kura kikuk yang lucu.
sudutbiru.30 november 2010.
Rabu, 24 November 2010
Jiwa sore.....
Sore ini saya menemukan diri saya di dalam sebuah rumah biru....dengan buku "bumi manusia" dan secangkir coklat panas. Rasanya nikmat sekali, mengamati setiap perjalanan yang dibuat oleh Minke, seorang pribumi jawa yang bersekolah di sekolah belanda. Bagaimana ia memandang seluruh aspek kehidupan dari kacamata yang bebas dan bertanggung jawab.
Dan sore ini, saya sedang memikirkan tentang sebuah perjalanan baru yang akan saya tempuh beberapa saat lagi. Dengan keputusan yang saya ambil secara bertanggung jawab. Dan memikirkan segala pencapaian yang akan saya terima nantinya. Sebuah perjalanan baru bersama dengan belahan hati saya. Pertemuan yang unik bagi kami berdua untuk dapat mengenal satu sama lain. Karena fotografi telah menyatukan kami. Karena imaji mempertemukan dua perbedaan manusia menjadi suatu kesatuan yang harmonis. Dan karena Tuhan telah memberikan tanda-tanda kecil yang terkadang tidak dapat dirasakan oleh manusia. Saya pun tertegun, apakah ini jalan yang telah kau berikan untukku Tuhan? Sebuah jalan yang akan saya jalani bersama pasangan jiwa saya hingga kami lanjut usia nanti? Semua begitu berliku....semuanya terkadang tak bisa diprediksikan dengan kata-kata.
Saat waktu telah menuaikan kewajibannya. berkata pada pagi dan malam hari, bagaimana rasanya jika kedua manusia ini dipertemukan dalam sebuah ikatan yang suci.
Dan saya sebagai seorang manusia yang memiliki rasa,akal dan jiwa telah berkembang menjadi manusia dewasa. Yang semoga saja dapat memenuhi segala hak dan kewajibannya. Serta meraih semua mimpi-mimpinya.
Bersama keluarga terkasih, sahabat yang selalu mendukung, Tuhan yang selalu menjaga, dan alam yang selalu menyayangi manusia di dalamnya. Saya titipkan sebuah sajak rindu di sore hari, dengan diiringi hujan yang turun dengan derasnya. Jadikanlah kami pasangan hidup yang saling mendukung dan menjadi keluarga bahagia.
Dan sore ini, saya sedang memikirkan tentang sebuah perjalanan baru yang akan saya tempuh beberapa saat lagi. Dengan keputusan yang saya ambil secara bertanggung jawab. Dan memikirkan segala pencapaian yang akan saya terima nantinya. Sebuah perjalanan baru bersama dengan belahan hati saya. Pertemuan yang unik bagi kami berdua untuk dapat mengenal satu sama lain. Karena fotografi telah menyatukan kami. Karena imaji mempertemukan dua perbedaan manusia menjadi suatu kesatuan yang harmonis. Dan karena Tuhan telah memberikan tanda-tanda kecil yang terkadang tidak dapat dirasakan oleh manusia. Saya pun tertegun, apakah ini jalan yang telah kau berikan untukku Tuhan? Sebuah jalan yang akan saya jalani bersama pasangan jiwa saya hingga kami lanjut usia nanti? Semua begitu berliku....semuanya terkadang tak bisa diprediksikan dengan kata-kata.
Saat waktu telah menuaikan kewajibannya. berkata pada pagi dan malam hari, bagaimana rasanya jika kedua manusia ini dipertemukan dalam sebuah ikatan yang suci.
Dan saya sebagai seorang manusia yang memiliki rasa,akal dan jiwa telah berkembang menjadi manusia dewasa. Yang semoga saja dapat memenuhi segala hak dan kewajibannya. Serta meraih semua mimpi-mimpinya.
Bersama keluarga terkasih, sahabat yang selalu mendukung, Tuhan yang selalu menjaga, dan alam yang selalu menyayangi manusia di dalamnya. Saya titipkan sebuah sajak rindu di sore hari, dengan diiringi hujan yang turun dengan derasnya. Jadikanlah kami pasangan hidup yang saling mendukung dan menjadi keluarga bahagia.
Kamis, 26 Agustus 2010
Hari bahagia.
Di sepanjang senja kita berjalan menuju rumah biru. Jalan yang sama kadang terlewati. Tetapi kita tak pernah bosan dengan pemandangan yang ada.
Kedua tangan kita tetap tergenggam erat seakan tak mau dilepaskan lagi. Bunyi-bunyi riuh kembang api menghentakan pandanganku ke arah senyumanmu. Dan aku mencoba menyelamimu. Hanya berpandangan saja. Tanpa seribu bahasa. Tapi tak biasanya kita bergandengan tangan cukup lama sekali. Entah apa yang ada di dalam diri kita. Seakan tak'kan ingin terpisahkan.
Bertemu muka hanya sesekali. Mendengar nada suaramu yang selalu terdengar renyah, seakan ingin memberitahukan padaku apa saja yang kau lakukan hari ini.
Dan masih, kami hanya berpandangan saja. Menatap mentari yang sama, mencium aroma tanah basah yang sama, menyelami mimpi-mimpi indah yang menjadi inpian bersama.
Kita tetap bergandengan tangan hingga ujung jalan yang terlihat itu. Hanya berpandangan dan tersenyum mesra. Menanti hari bahagia itu tiba.
Kedua tangan kita tetap tergenggam erat seakan tak mau dilepaskan lagi. Bunyi-bunyi riuh kembang api menghentakan pandanganku ke arah senyumanmu. Dan aku mencoba menyelamimu. Hanya berpandangan saja. Tanpa seribu bahasa. Tapi tak biasanya kita bergandengan tangan cukup lama sekali. Entah apa yang ada di dalam diri kita. Seakan tak'kan ingin terpisahkan.
Bertemu muka hanya sesekali. Mendengar nada suaramu yang selalu terdengar renyah, seakan ingin memberitahukan padaku apa saja yang kau lakukan hari ini.
Dan masih, kami hanya berpandangan saja. Menatap mentari yang sama, mencium aroma tanah basah yang sama, menyelami mimpi-mimpi indah yang menjadi inpian bersama.
Kita tetap bergandengan tangan hingga ujung jalan yang terlihat itu. Hanya berpandangan dan tersenyum mesra. Menanti hari bahagia itu tiba.
Jumat, 30 Juli 2010
Rain Man.
Rain falls down and gazelle wrapping me all the times
Silent and warm, like a breath of air.
Oh Rain Man...Come and joined me in the deepest sea.
To see the greatest scenery and silky wind.
I wanna play sand with you in a cloudy day...
Looked up remedy of happiness...
Watching children play hide and seek....
As usually we catch them with our arms along.
Rain man and Lady Rain
Together as one and never part away.
Silent and warm, like a breath of air.
Oh Rain Man...Come and joined me in the deepest sea.
To see the greatest scenery and silky wind.
I wanna play sand with you in a cloudy day...
Looked up remedy of happiness...
Watching children play hide and seek....
As usually we catch them with our arms along.
Rain man and Lady Rain
Together as one and never part away.
Untaian Peta Biru
Aku telah yakin padanya Tuhan....
Sejak pertama kali aku melihatnya...Aku yakin padanya....
Dia membentuk garis peta yang teratur dan baik adanya.
Mendekatiku dengan penuh sahaja...seakan tak pernah lekang oleh panjang jarak yang terbentang.
Aku telah berbuat seyakin yang aku bisa.....
Ingin merangkai mimpi dengan dia di kaki bukit berwarna biru.
Berikanlah kami kekuatan yang dapat membuat kami lebih bersyukur padamu Tuhan.
Berikanlah kami ruang titik untuk bertemu.
Menembus batas dan waktu.
Jakarta. 30.07.10
Sejak pertama kali aku melihatnya...Aku yakin padanya....
Dia membentuk garis peta yang teratur dan baik adanya.
Mendekatiku dengan penuh sahaja...seakan tak pernah lekang oleh panjang jarak yang terbentang.
Aku telah berbuat seyakin yang aku bisa.....
Ingin merangkai mimpi dengan dia di kaki bukit berwarna biru.
Berikanlah kami kekuatan yang dapat membuat kami lebih bersyukur padamu Tuhan.
Berikanlah kami ruang titik untuk bertemu.
Menembus batas dan waktu.
Jakarta. 30.07.10
Kamis, 13 Mei 2010
Foto Sebagai Media Dokumentasi dalam Kehidupan Manusia
Apa yang menjadi referensi visual kita sehari-hari adalah bahasa gambar. Dan bagaimana perspektif kita melihat dunia, kini terbentuk oleh gambar-gambar yang terlihat dalam perkembangan budaya visual sekarang ini. Fotografi adalah salah satu medium yang memegang peranan penting dalam perkembangan kultur visual.
Ketika image ( photograph ) mampu mewakili kebenaran dan realitas dibandingkan dengan kata-kata ( text ), maka 'keseharian' yang direkam oleh kamera dan kemudian image yang dihasilkannya sejalan dengan perkembangan teknologinya dalam menampilkan citraan-citraan telah menjadikannya representasi dari realitas untuk masyarakat. Tapi sejauh mana fotografi dapat merepresentasikan realitas, dan juga realitas yang seperti apa, menjadi hal yang layak dilihat kembali dan dipertanyakan kembali.
Fotografi memiliki sebuah fungsi; pertama sebagai medium untuk merekam kenyataan (ketidaknyataan) dan kedua sebagai medium ekspresi artistik. Secara kodratnya sebagai alat perekam, fotografi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keseharian dan perkembangan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat.
Fotografi memperlihatkan kepada kita kehidupan urban, kehidupan secara alami, modernitas, wajah orang-orang, landscape, culture, fashion, kegembiraan, kesedihan, perang dan perubahan dalam masyarakat.
Sebagai media perekam, fotografi menjadi representasi dari memori. Melalui perekaman memori-memori, fotografi menjadikan apa yang telah lalu bercampur dengan waktu yang sekarang, menyatu dengan kekinian. Di setiap kehidupan manusia, fotografi merupakan media yang penting untuk mengungkapkan tentang " ada ". Yang dimaksud dengan "ada" adalah di saat kita berada di dalam selembar foto pada suatu kejadian dan orang lain dapat melihat diri kita pernah berada di dalam kejadian atau kenangan tersebut.
Menurut buku yang saya baca, yang ditulis oleh Karren Strassler, mengatakan bahwa fotografi dibedakan menjadi dua bagian yaitu fotografi dokumentasi sebagai rekaman (record) dan fotografi dokumentasi sebagai arsip.
Yang dimaksud dengan fotografi dokumentasi sebagai rekaman (record) adalah tentang sejarah awal masuknya fotografi pada zaman masuknya pasphoto yang dilakukan oleh orang China-Indonesia di Jawa, zaman hindia belanda di Indonesia, lalu tentang pasphoto (foto identitas diri) yang digunakan sebagai dokumen resmi, fungsional membuat ijazah.
Sedangkan yang dimaksud dengan fotografi dokumentasi sebagai arsip adalah pengumpulan foto-foto yang berada di dalam dompet ataupun foto-foto yang dipajang di ruang keluarga sebagai arsip umum dan arsip pribadi.
Yuwono seorang foto jurnalis China-Indonesia, menjelaskan:
" ketika seseorang meninggal dunia dan mereka menggunakan foto, ketika orang meninggal dunia lalu dibakar menjadi abu, mereka membawa fotonya. Memajang foto tersebut sebagai pengingat, maksudnya adalah memberika penghormatan kepada yang telah mati".
Untuk mencapai pengertian tentang sebuah foto bukanlah suatu hal yang mudah. Sejauh ini usaha yang paling baik adalah apa yang dikatakan oleh Wilson Chicks.
Esensi dari sebuah foto adalah: " I was there, I saw it happen, it was like this".
Rabu, 12 Mei 2010
LELAH
Hampir setengah terpejam, dengan tubuh penuh jeruji.
Mengapa tak ada kata penyemangat yang selama ini selalu terdengar....
Tubuhku semakin lama semakin menipis lapisannya, karena kau tak mengerti betapa lelahnya diri ini.
Biar kusembunyikan semuanya.... Hanya sendiri.
Tak ada penghargaan dalam "sebuah nama panggilan", yang ada cuma "reflek"?
Anggaplah aku sebagai teman biasa saja....daripada kau melemahkan jiwaku yang hampir mati ini!
sedih rasanya....rasanya sedih sekali....
Jakarta,17.10.50
12 Mei 2010.
Mengapa tak ada kata penyemangat yang selama ini selalu terdengar....
Tubuhku semakin lama semakin menipis lapisannya, karena kau tak mengerti betapa lelahnya diri ini.
Biar kusembunyikan semuanya.... Hanya sendiri.
Tak ada penghargaan dalam "sebuah nama panggilan", yang ada cuma "reflek"?
Anggaplah aku sebagai teman biasa saja....daripada kau melemahkan jiwaku yang hampir mati ini!
sedih rasanya....rasanya sedih sekali....
Jakarta,17.10.50
12 Mei 2010.
Sabtu, 08 Mei 2010
Atap Langit bernama Hujan.
Tadi sore, aku mencium aroma tanah basah yang tersiram hujan. Ah harum sekali aromanya. Seperti wanginya rotinya yang terpanggang. Ingin sekali aku bermain hujan ditemani bayangan berwarna-warni. Aku melihat hujan turun ke bumi lama sekali, sambil kusesaki aromanya menyentuh bulu-bulu hidungku yang sensitif. Menakjubkan.
Selepas hujan berhenti, aku terdiam dan berbicara sendiri dalam hati. "Kenapa kamu berhenti hujan?". Aku masih ingin melihatmu menemani soreku yang dingin ini. Teringatku pada suatu ketika, saat ku masih muda dulu.
Aku suka bermandikan hujan di bawah atap langit. Dan dengan riang gembira aku tertawa sambil membuka mulutku selebar-lebarnya, agar aku dapat merasakan air hujan yang turun dari langit. Hmmm...rasanya hambar.
Tapi tak mengapa, rasa penasaranku akan rasa air hujan sudah kudapatkan. Tak perlu mencari lagi, setidaknya aku pernah mencobanya.
Lalu aku mendengar suara Ayah memanggilku, agar segera masuk ke dalam rumah. Ah, aku sedih, Biarkan aku tetap bermandi hujan dengan tanganku yang masih menggenggam bunga sepatu berwarna merah, Aku ingin menari sambil berputar dan berputar, hingga aku terjatuh dengan bahagia bersama hujan.
Ayolah ayah, biarkan aku sebentar saja bermandikan cahaya hujan......
Selepas hujan berhenti, aku terdiam dan berbicara sendiri dalam hati. "Kenapa kamu berhenti hujan?". Aku masih ingin melihatmu menemani soreku yang dingin ini. Teringatku pada suatu ketika, saat ku masih muda dulu.
Aku suka bermandikan hujan di bawah atap langit. Dan dengan riang gembira aku tertawa sambil membuka mulutku selebar-lebarnya, agar aku dapat merasakan air hujan yang turun dari langit. Hmmm...rasanya hambar.
Tapi tak mengapa, rasa penasaranku akan rasa air hujan sudah kudapatkan. Tak perlu mencari lagi, setidaknya aku pernah mencobanya.
Lalu aku mendengar suara Ayah memanggilku, agar segera masuk ke dalam rumah. Ah, aku sedih, Biarkan aku tetap bermandi hujan dengan tanganku yang masih menggenggam bunga sepatu berwarna merah, Aku ingin menari sambil berputar dan berputar, hingga aku terjatuh dengan bahagia bersama hujan.
Ayolah ayah, biarkan aku sebentar saja bermandikan cahaya hujan......
Jumat, 07 Mei 2010
MIGRAIN MERACAU
Diri ini begitu lelah mengamati banyaknya jejeran kata-kata yang memusingkan. Resah sekali. Kapan ini akan segera dimulai? Aku ingin segera melakukan perjalanan Jiwa! Haus akan rasa ceria dan tawa bahagia.
Lepaskan semuanya idea!!!
Biarkan pikiran terburukmu yang lepas dan menjauh dari dirimu. Jangan biarkan kamu tertatih rapuh dan akhirnya menjadi untaian air mata.
Lepaskan semuanya idea!!!
Biarkan pikiran terburukmu yang lepas dan menjauh dari dirimu. Jangan biarkan kamu tertatih rapuh dan akhirnya menjadi untaian air mata.
Trilogi Tiga Kota
Jakarta...
Solo....
Semarang...
bersama sang surya, rembulan dan lukisan langit yang membentang luas di angkasa biru...
indah sekali...
sepeti sebuah cerita yang tak pernah dibayangkan sebelumnya...
berjalan dengan penuh keriangan dan sebuah pengharapan...
warung kopi bersama dengan sepeda onthel tua, bersama menyusuri jalan temaram di kota pecinan yang berisi semua romansa...
Trilogi tiga kota yang tak pernah bisa dilupakan.
Solo....
Semarang...
bersama sang surya, rembulan dan lukisan langit yang membentang luas di angkasa biru...
indah sekali...
sepeti sebuah cerita yang tak pernah dibayangkan sebelumnya...
berjalan dengan penuh keriangan dan sebuah pengharapan...
warung kopi bersama dengan sepeda onthel tua, bersama menyusuri jalan temaram di kota pecinan yang berisi semua romansa...
Trilogi tiga kota yang tak pernah bisa dilupakan.
Guratan Teras Mendung
Di halaman kumuh kau melihatku dengan tatapan kosongmu...
mengoyak semua pakaian yang ada pada tubuh kecilmu...
menyibakkan rambut panjang yang tak tersisir.
meski mendung mulai menghinggap
kau tetap berdiri terpaku di hadapanku...
"aku adalah jiwa-jiwa gelap dalam tubuhmu"
tak pernah kau uraikan segelintirpun kata-kata ...
hanya untuknya tentang mimpi-mimpi malam.
bias dan tak berbuih.
Dan tersenyumlah...
biarkan sisi gelapmu menemanimu.
meski rumit dan tak berujung,
sisi putihmu akan slalu setia menjagamu.
mengoyak semua pakaian yang ada pada tubuh kecilmu...
menyibakkan rambut panjang yang tak tersisir.
meski mendung mulai menghinggap
kau tetap berdiri terpaku di hadapanku...
"aku adalah jiwa-jiwa gelap dalam tubuhmu"
tak pernah kau uraikan segelintirpun kata-kata ...
hanya untuknya tentang mimpi-mimpi malam.
bias dan tak berbuih.
Dan tersenyumlah...
biarkan sisi gelapmu menemanimu.
meski rumit dan tak berujung,
sisi putihmu akan slalu setia menjagamu.
Rumah Biruku
Rumah Biruku,
Seiring dengan langkahku berjalan..
Berada di tempat-tempat penuh dengan harap dan cinta.
Bertemu dengan sepasang pecinta yang baru saja turun gunung dan membawa bunga edelweis emas kekuningan...
Melengkapi semua indera perasaku,membahagiakan jiwa ragaku...
Bersama para sahabat, keluarga dan orang terkasih...
Memberikan senyuman yang dapat menyejukkan jiwa.
Biarlah waktu yang akan menjawab semua kesabaran ini.
Hingga nanti kau sadar bahwa rasa itu tulus dan murni...
Bahwa dengan ikhlas mengarunginya bersama dengan kuat dan bersahaja.
Membuatku menyatu bersama dedaunan di musim semi.
Seiring dengan langkahku berjalan..
Berada di tempat-tempat penuh dengan harap dan cinta.
Bertemu dengan sepasang pecinta yang baru saja turun gunung dan membawa bunga edelweis emas kekuningan...
Melengkapi semua indera perasaku,membahagiakan jiwa ragaku...
Bersama para sahabat, keluarga dan orang terkasih...
Memberikan senyuman yang dapat menyejukkan jiwa.
Biarlah waktu yang akan menjawab semua kesabaran ini.
Hingga nanti kau sadar bahwa rasa itu tulus dan murni...
Bahwa dengan ikhlas mengarunginya bersama dengan kuat dan bersahaja.
Membuatku menyatu bersama dedaunan di musim semi.
Langganan:
Postingan (Atom)



