Jumat, 07 Mei 2010

Guratan Teras Mendung

Di halaman kumuh kau melihatku dengan tatapan kosongmu...
mengoyak semua pakaian yang ada pada tubuh kecilmu...
menyibakkan rambut panjang yang tak tersisir.

meski mendung mulai menghinggap
kau tetap berdiri terpaku di hadapanku...

"aku adalah jiwa-jiwa gelap dalam tubuhmu"

tak pernah kau uraikan segelintirpun kata-kata ...
hanya untuknya tentang mimpi-mimpi malam.
bias dan tak berbuih.

Dan tersenyumlah...
biarkan sisi gelapmu menemanimu.
meski rumit dan tak berujung,
sisi putihmu akan slalu setia menjagamu.

Rumah Biruku

Rumah Biruku,
Seiring dengan langkahku berjalan..
Berada di tempat-tempat penuh dengan harap dan cinta.
Bertemu dengan sepasang pecinta yang baru saja turun gunung dan membawa bunga edelweis emas kekuningan...
Melengkapi semua indera perasaku,membahagiakan jiwa ragaku...

Bersama para sahabat, keluarga dan orang terkasih...
Memberikan senyuman yang dapat menyejukkan jiwa.

Biarlah waktu yang akan menjawab semua kesabaran ini.
Hingga nanti kau sadar bahwa rasa itu tulus dan murni...
Bahwa dengan ikhlas mengarunginya bersama dengan kuat dan bersahaja.
Membuatku menyatu bersama dedaunan di musim semi.

Kamis, 06 Mei 2010

Mark Hayden,the inspirator

Gradasi Cinta Abu-abu

Temaram aku terdiam di antara ribuan jarak yang memisahkan.
Rusak karena terbengkalai lalu membiarkannya membusuk secara perlahan.
Rasanya diri ini hancur dan tak berbentuk.
Hanya memuai berubah menjadi abu-abu.

Rela dan tak rela...
Benci dan keras kepala...

Sisi ruang jiwa yang kosong karena terbuai musim gugur berwarna kekuningan
Dan meruntuhkan segala amarah yang ada.
Hanya ada aku dan jarak. Bayangan birumu tak pernah muncul kembali....
Yang ada hanya warna abu-abu. Dan hanya itu!

Menggeliat ku di tepian surau,
Membuka mata batin pada seruni alam yang berbisik sore itu...
Meski dipenuhi kabut tipis yang tak bisa menghilang.
Dia berkata dengan lirih: "masuklah ke dalam pikiran kecilmu, niscaya kamu akan yakin apa yang akan kamu dapatkan".

Kembali merenung dan berpikir keras....
Kemanakah kaki ini akan melangkah?
Mulai menjauh??? Atau semakin mendekat????

Jakarta, 17.15, 6 Mei 2010
-Idea-

Selasa, 04 Mei 2010

Rupa dan Bayangan

Hingar bingar suasana kota membuatku jengah, sesaat terjadi sebuah cerita.
Tak mengapa tak terduga...
Dia bagaikan sesosok bayangan semu yang kadang datang dan tenggelam
satu persatu bagian dari bayangan itu mulai terlihat...
Mulai dari wajahnya yang kukira sangat mencerminkan kedamaian
dan tangannya yang mulai menggambar sebuah kisah perjalanan yang tak henti mengarah.
Masih tak tahu bentuknya seperti apa
Masih tak mengerti sentuhannya seperti apa
Masih tak mengetahui arti dirinya seperti apa...
Karna dia hanya sebuah rupa dan bayangan...
Apakah itu semua fatamorgana?
Ataukah benar-benar sebuah nyata?

I wish that shadow is you...

Untaian Benang Merah

Pernahkah kau berpikir...
bagaimana semuanya dapat terjadi?
kamu bertemu aku di suatu kota yang penuh rindu...
dan menjalin persemaian persahabatan dengan indahnya...

peluh dan perih keringat telah kita lewati bersama...
tawa dan riang telah menyatu menjadi satu...

aku tak'kan pernah lupa akan janji kita
di balik bukit biru, kita memotret kabut senja ditemani dengan padang ilalang coklat.
kamu akan menunggu semua kenangan itu kembali..meski harus seribu tahun lagi...

benang merah kehidupan telah bergulir
aku,kamu dan mereka masih sama...
hanya guratan kecil di bawah kelopak mata yang berubah...
mengisyaratkan waktu yang telah berjalan dengan cepatnya...

sahabat jiwa...
kembalilah pulang bersamaku...
menjelajah bagian-bagian kota yang terhempas
dan menari bahagia.

Short Term Memory

Pernahkah aku ingat saat pertama aku menginjakan kaki kecilku di tanah yang lembab? Sambil menelusuri padang ilalang yang panjang dan berangin. Dia dan aku melangkah bersama dengan tangan tergenggam dan tersenyum bahagia.
Riak harap pada sebuah lembaran kisah biru, menyeruak bias kelesuan pikiran dan amarah.

Aku masih seperti dahulu
Suka berbagi bahagia bersamamu
Aku masih suka bermain hujan
Sambil membawa bunga matahariku...

masa keciku, berlari dan berlari menyusuri setapak jalan membentuk jejak kaki berpendar kelabu. Ribut dan terhuyung sendiri.
Sial. Masa kecilku sudah tak kuingat sama sekali...atau malah terlupakan sama sekali.
Padahal dulu mereka bilang aku seperti boneka dan berwajah malaikat, tapi tak satupun yang tersisa di balik kerak otakku.

Masa laluku, tak ingin kudapati dirimu berenang-renang berputar menenggelamkan aku.
dan membuatku mati membisu di tengah lapang yang tak berujung.

Memori jingga yang kudapati hari ini lebih indah dari biasanya...lebih tersentuh seperti mekarnya lavender di sahara..yang tak mungkin menjadi mungkin. Yang hilang, akhirnya aku menemukannya kembali.
Meski hanya punggungmu yang terlihat di tepian bersama mentari...
Tapi ingatan bahagiakulah yang membangkitkan jiwaku agar bertahan pada satu tujuan.

Jakarta.
#Momentum Jingga 3#